Hari itu tanggal 28 September 2013
aku mempersiapkan bekal untuk memulai pendakian pertama dalam hidupku di Gunung
Merbabu. Aku pakai sepatu seadanya, jaket seadanya, serta perlengkapan
seadanya. Karena memang aku sama sekali belum tahu seperti apa pendakian itu.
Aku bertemu dengan teman-teman baru disana, karena kami melakukan petualangan
kami bersepuluh, maka kami namakan team kami dengan nama “RT 10”. Tak pernah ku
bayangkan kalau ternyata pendakian ini amatlah berat bagiku yang sebelumnya
belum pernah sama sekali melakukannya. Tak ada pemanasan dihari-hari
sebelumnya, tak ada olah raga atau apapun juga.
Track yang terjal, beban yang
berat, udara yang sangat-sangat dingin, lengkap sudah suasana baru yang belum
pernah aku rasakan sebelumnya. Dan yang paling parah lagi, aku kira perjalanan
hanya beberapa jam saja (2-4 jam) tapi ternyata perjalanan 8 jam hanya baru
sampai basecamp ke 3, belum perjalanan ke puncaknya. Aku benar-benar tak pernah
membayangkan ini sebelumnya. Sampai di basecamp tersebut kami mendirikan tenda
untuk beristirahat. Ternyata badainya sangat besar, dingin begitu menusuk
tulang, sampai semuanya terasa kaku dan kram.
Ba’da subuh tanggal 29 September
2014 kami melanjutkan perjalanan lagi menuju puncak. Dengan dingin yang terus
menusuk, rasa lelah yang teramat sangat, rasa ngantuk yang terus menggelayut,
rasanya kaki ini begitu malas untuk berjalan. Tapi ditengah perjalanan aku
melihat keagungan Tuhan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku melihat
sunrise yang begitu indah di atas gunung ini. Begitu cantik dan mempesona.
Sudah sekitar 3 jam kami berjalan
sampailah kami di padang savana yang disana berkumpul banyak orang, aku merasa
lega, aku kira kami sudah sampai puncak, tapi ternyata belum. Puncaknya masih
ada diujung gunung yang jauh terlihat dari padang savana tersebut. Aku sudah
berkali-kali menyerah dan putus asa dan memutuskan untuk tetap tinggal, tapi
teman-temanku menyemangati aku, mereka terus memotivasi dan membantu aku.
Aku teringat ketika waktu itu aku
sama sekali sudah tak punya daya, aku ditarik dengan selendang agar aku mau
tetap berjalan, dan dibelakang ada temanku yang juga mendorongku agar aku tetap
naik dan terus naik. Kalau aku teringat saat itu rasanya begitu geli, dan aku
malu pada temanku itu. Ahahaha. J
Perjalanan menuju puncak pun kembali di lanjutkan. Kami melewati jalan setapak dipinggiran gunung dan jurang yang amat curam. Darisana aku bisa melihat kebawah bahwa sudah sejauh ini perjalanan yang aku tempuh, dan tinggal sedikit lagi aku akan sampai pada tujuanku, yaitu puncak.
Disaat kakiku sudah kehilangan dayanya untuk bejalan, senyuman dan uluran tangan teman-temanlah yang menjadikan semangat bagiku. Bukan hanya berjalan keatas gunung yang aku alami, tetapi juga ada panjat tebing yang sama sekali belum pernah aku coba sebelumnya. Dan waktu itu aku langsung mempraktekannya. Dan dengan susah payah berjalan, melangkah dan merangkak akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami, yaitu puncak triangulasi / kenteng songo, puncaknya gunung merbabu. Dengan senyum lebar dan tangisan aku bersyukur atas semua yang Allah anugerahkan. Aku bisa berdiri atas sana dengan penuh kebanggaan.
Terima
kasih Pak RT (Zainal) yang sudah mau mengajakku menemukan pengalam yang tak kan
terlupakan ini.
Terima
kasih Bibeh (Habibah) sudah mau menemani perjuanganku (setelah aku paksa)
diperjalananku yang luar biasa ini.
Dan
terima kasih kepada kalian semua teman-teman seperjuanganku, teman-teman “RT
10”, teman-teman terbaik yang pernah aku temui, kalian lah semangatku,
kalianlah kekuatanku, dan kalian lah senyumanku. Terima Kasih banyak untuk
semuanya.